Makrifat
By Admin

Oleh : Handoko Ja'far*
nusakini.com, Berbeda dengan nakirah yang bersifat umum dan tak tentu, lam ta‘rīf sebagai kata sandang dalam bahasa Arab justru berfungsi menunjuk kejelasan penyandang yang sama—bukan yang lain. Ia tidak sekadar menamai, tetapi mengunci rujukan. Dalam satu struktur bahasa, al- memastikan bahwa yang dimaksud adalah entitas yang telah ma‘rūf, dikenal, dan tidak ambigu.
Fenomena ini menarik jika dibandingkan dengan artikula dalam bahasa lain, khususnya bahasa Indonesia dan Inggris. Dalam bahasa Indonesia, kata sandang seperti si dan sang tidak netral. Keduanya sarat muatan nilai. Si kerap digunakan untuk merendahkan atau menyepelekan (“si kucing”, “si maling”), sementara sang dipakai untuk mengunggulkan atau mengagungkan (“sang raja”, “sang pahlawan”). Pemilihan artikula ini bersifat arbitrer—sepihak, suka-suka—namun lama-kelamaan membeku menjadi konsensus sosial yang seolah mengikat. Ia menjadi semacam ijmak linguistik yang dipaksakan oleh kebiasaan.
Namun, pola demikian tidak kita temukan dalam bahasa Inggris. Ungkapan the cat dan the king menggunakan artikula yang sama (the) untuk dua entitas yang jelas tidak setara. Kata sandang yang identik disematkan pada subjek yang sangat berbeda nilai, posisi, dan martabatnya. Keseragaman artikula ini seakan mencerminkan semangat egalitarian Barat: semua diberi penanda yang sama, tanpa hirarki linguistik. Bahkan, dalam konteks tertentu, keseragaman ini mengingatkan pada konsep teologis Trinitas—satu artikula untuk realitas yang jamak.
Trinitas sendiri dipahami sebagai kesatuan tiga esensi: bukan sekadar two in one sebagaimana Manunggaling Kawulo Gusti, melainkan three in one—tiga dalam satu kesatuan. Bahasa Inggris, secara simbolik, mempraktikkan kesatuan penanda bagi keberagaman penyandang. Bahasa Indonesia sebaliknya, menuntut pembedaan artikula untuk menjaga jarak makna dan nilai.
Perbedaan ini bukan sekadar teknis linguistik, melainkan refleksi pandangan dunia. Semangat penyeragaman Barat (bahkan tercermin dalam istilah unisex atau unilever) tidak sepenuhnya sejalan dengan kosmologi Timur yang meniscayakan diferensiasi. Dalam logika Timur, penyamaan artikula berpotensi mengaburkan keburukan dan mengubur kebaikan. Si terlanjur identik dengan konotasi negatif, sementara sang kadung dipersepsikan positif. Menyamakan keduanya berarti merusak peta nilai yang sudah terbangun.
Di titik inilah bahasa Arab menawarkan jalan tengah yang menarik. Ia tidak terjebak pada hirarki arbitrer ala si–sang, juga tidak larut dalam penyeragaman total ala the. Dalam bahasa Arab, makrifat tetap satu meski diulang dalam konteks berbeda. Al- menunjuk ke rujukan yang sama, tidak membuka peluang bagi “yang lain”. Prinsip ini sejajar dengan teologi tauhid: Tuhan yang ma‘rūf, dikenal dengan segala kebaikan-Nya, adalah satu, tanpa sekutu.
Sebaliknya, nakirah menandai ketaktertentuan dan kejamakan implisit. Kalimat qābaltu mar’atan wa akramtu mar’atan secara linguistik menunjuk dua perempuan yang berbeda, meskipun menggunakan kata yang sama (mar’ah). Tanpa lam ta‘rīf, kesamaan lafaz justru menegaskan perbedaan referen. Makrifatlah yang menyatukan, bukan sekadar pengulangan kata.
Prinsip ini mencapai puncak keindahannya dalam firman Tuhan:
“Fa inna ma‘a al-‘usri yusrā, inna ma‘a al-‘usri yusrā.”
Kesulitan (al-‘usr) disebut dalam bentuk makrifat—menandakan satu kesulitan yang sama—sementara kemudahan (yusrā) hadir dalam bentuk nakirah dan diulang dua kali. Dari struktur bahasa semata, lahirlah dalil bahwa satu kesulitan akan diiringi oleh dua kemudahan.
Dengan demikian, artikula bukan sekadar alat gramatikal. Ia adalah politik makna. Ia menentukan apakah sesuatu disatukan atau dibedakan, diagungkan atau direndahkan, ditegaskan atau dibiarkan mengambang. Bahasa Arab, dengan keseimbangan antara makrifat dan nakirah, menawarkan kebijaksanaan linguistik yang sekaligus teologis: bahwa keesaan harus dijaga, dan perbedaan harus diakui—tanpa saling meniadakan.
Semoga kita selalu berada dalam kesulitan.
*Penyuka Lingua, menetap di Malang